Minggu, 06 November 2011

9 Permasalahan di Bali

Oleh : Kadek Fendy Sutrisna

Mendengar kata BALI dibayangan teman-teman pembaca lainnya sudah pasti adalah suatu pulau tempat tujuan pariwisata terindah di Indonesia yang sudah terkenal ke mancanegara. Penulis pun juga berpikir hal yang sama, sampai pada akhirnya saat penulis menyempatkan diri balik ke kampung halaman pada bulan Juli 2011 kemaren, ada beberapa pemikiran tentang permasalahan di Bali yang ingin disampaikan di blog ini agar  bisa menjadi bahan koreksi untuk lebih baik lagi kedepannya.

Melihat tempat kelahiran dari sudut pandang berbeda, setelah merasakan sendiri rasanya berpariwisata ke kota-kota di Eropa, Jepang, dan China membuat jiwa saya tertarik untuk lebih meningkatkan pelayanan kepariwisataan di Bali agar menjadi daerah tujuan wisata terbaik dan menjadi tempat yang lebih ideal para wisatawan, baik asing maupun domestik. Dari liburan ini ada 9 poin yang dapat saya paparkan tentang permasalahan yang perlu menjadi perhatian publik Bali untuk lebih meningkatkan kualitas industri pariwisatanya.

Menurut hemat saya sudah menjadi kewajiban kita sebagai orang yang lahir di Bali, secara sukarela tanpa harus menunggu perbaikan dari pemerintah pusat atau uluran bantuan dari luar dan pihak swasta untuk menyelesaikan segala permasalahan yang terjadi di Bali yang timbul akibat meningkatnya jumlah wisatawan yang datang ke Bali.

Jangan sampai kita sebagai pemilik sah Pulau Bali ini hanya bersifat cuek dan gengsi yang hanya bisa menunjuk para investor yang berbisnis di Bali yang harus bertanggung jawab dengan segala kerusakan-kerusakan yang terjadi di Bali.

Ingatlah satu hal sebagai analogi permasalahan ini adalah saat kita mengundang tamu untuk berkumpul dirumah kita, rumah kita akan semakin kotor dan rusak apabila kita tidak berusaha untuk mengajak tamu bersama-sama menjaga kebersihan rumah kita.

Tentu saja pada tulisan ini, saya juga mengajak wisatawan domestik untuk ikut menjaga kelestarian pariwisata di Bali membantu krama Bali dalam memberi contoh yang baik untuk wisatawan asing bersama-sama menjaga kelestarian Bali selama kunjungan mereka ke Bali.

Bali sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi daerah kunjungan wisata nomer 1 di dunia. Tentu saja hal ini dapat terwujud apabila kita sebagai rakyat Indonesia secara sadar bersama-sama untuk menghargai potensi yang kita miliki ini.

Berikut adalah 9 poin permasalahan di Bali yang dapat saya petik dan dirasa perlu menjadi perhatian kita di masa kini:

1. Sampah dan kebersihan lingkungan
Sampah dan masalah kebersihan di Bali sudah sering kali menjadi keluhan utama para wisatawan asing dan domestik yang berkunjung ke Pulau Dewata kita. Perlu ditekankan disini permasalahan sampah bukan hanya menjadi permasalahan di Bali, tetapi juga sudah menjadi permasalahan Indonesia secara meluas, di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Irian, dan pulau lainnya, semua selalu saja ada permasalahan yang berhubungan dengan sampah.
Sangat disayangkan bahwa selain sampah plastik yang masih banyak berserakan di Bali, terutama di tempat-tempat pariwisata terkenal, seperti daerah di sekitaran Pantai Dreamland, jalan-jalan disekitaran wisata bedugul, maupun di area-area wisata pura di Bali. Selain itu banyak juga terdapat sampah-sampah sisa hasil persembahyangan, yang saat saya berada di Bali para krama Bali sedang dalam kegiatan menyambut Galungan dan Kuningan. 

Penanggulangan masalah sampah dan kebersihan lingkungan bisa dilakukan dengan cara membiasakan kita untuk membersihkan lingkungan rumah sekitar. Jangan malu untuk mengajak teman-teman kita bersama-sama membersihkan area wisata di Bali. Tidak seperti di Indonesia, di luar negri tidak ada petugas khusus yang membersihkan jalan-jalan dan tempat umum. Alangkah baiknya apabila kita tetap menjaga kebersihan lingkungan tanpa harus mengandalkan kepada para petugas pembersih jalan.

2.  Kemacetan lalu lintas dan kondisi jalan yang sering rusak
Sementara itu, permasalahan transportasi yang berupa kemacetan dan jalan-jalan yang sering rusak juga perlu menjadi sorotan di Bali. Pengembangan transportasi umum untuk mengurangi penggunaan mobil pribadi dan sewaan menjadi syarat mutlak yang harus diperjuangkan untuk mengatasi kemacetan di Bali. Transporatasi umum yang ideal adalah sistem transportasi yang bisa menjadi solusi yang murah dan tidak mengganggu aktivitas trasnportasi kendaraan lainnya.

Bali butuh sistem trasportasi umum yang kecil, praktis, dan dapat mencakup seluruh tempat wisata di Bali melalui jalur-jalur alternatif yang dapat mengatasi kemacetan. Bis Sarbagita yang digadang-gadang menjadi solusi transportasi umum di Bali, kurang dikonsep secara detail, sehingga masih banyak permasalahan-permasalahan baru yang timbul lagi setelahnya.
  
Saya perhatikan selama di Bali terdapat pembangunan halte-halte bis yang baru disekitar ruas jalan yang pembangunannya terkesan setengah hati. Kenapa saya bilang setengah hati karena halte-halte bus tersebut terlalu besar, penempatannya kurang strategis, dan didirikan diatas trotoar yang dapat mengganggu kenyamanan orang lain. 

Ada sebuah ide yang mungkin bagus diterapkan untuk sistem bis sarbagita yang masih melayani rute-rute tertentu dan halte-haltenya jauh dari pusat keramaian. Terlihat para penumpang memerlukan transportasi sederhana untuk menuju halte terdekat atau dari halte menuju tempat tujuan akhir. 

Sepeda mungkin bisa menjadi solusi terbaik. Di dalam bis Sarbagita yang besar mungkin bisa dibuatkan tempat parkir sepeda, sehingga penumpang bisa membawa sepedanya ke dalam bus untuk digunakan selama berpergian. Ide yang bagus bukan? Dengan ini Bali bisa menjadi lebih terkenal karena masyarakatnya memberikan contoh yang baik kepada dunia untuk tetap menggunakan transportasi yang ramah lingkungan.

Bagaimana dengan solusi untuk jalan-jalan yang sering rusak? Hanya orang-orang yang bekerja di pemerintahan yang dapat memberikan jawaban dari pertanyaan ini.. :p

3.  Permasalahan pada sistem antrian di Bandara yang tidak teratur
Tidak hanya sebuah bandara yang kecil dan memalukan, bandara Ngurah Rai sebagai bandara Internasional juga memiliki jumlah pekerja yang terlalu banyak, dengan sistem pelayanan yang sangat tidak efektif dan kurang memuaskan. 

Terlalu banyak pekerja bandara yang bermain, ngumpul bareng dan bercanda tanpa memperdulikan tamu-tamu yang datang ke Bali. Seringkali, lampu di Bandara tidak menyala saat menjelang senja, jadwal penerbangan yang dibiarkan salah begitu saja, beberapa pemeriksaan tiket dan bagasi yang kurang efektif dan memakan waktu yang lama. Hal-hal kecil seperti kebersihan bandara, parkir, kebersihan toilet, jam dinding yang dibiarkan mati juga perlu menjadi perhatian serius dalam peningkatan pelayanan di Bandara Ngurah Rai

Jangan lupa Bandara Ngurah Rai adalah Bandara Internasional dan merupakan pintu keluar-masuk para wisatawan. Untuk menjadi tempat wisata yang lebih baik lagi, bandara ini harus bisa memberikan kesan pertama dan perpisahan yang memuaskan dan tak terlupakan untuk para wisatawan yang datang ke Bali. Buat para pembaca yang bekerja di Bandara Ngurah Rai, ayo lebih peka lagi, kita berkontribusi bersama-sama untuk kemajuan pariwisata di Bali.

4. Sedimentasi dan pendangkalan danau, banjir dan permasalahan air bersih
Permasalahan air memang terlihat sederhana dan kurang menjadi perhatian di Bali. Tapi lihatlah hampir semua danau di Bali rata-rata mengalami pendangkalan. Penulis berpendapat bahwa kerusakan lingkungan ini bukanlah hal yang wajar. Semuanya berkaitan dengan prilaku kita yang mengabaikan aspek-aspek kelestarian lingkungan. Sebagai contoh, semakin banyaknya rumah-rumah dan fasilitas umum yang di beton dan di aspal.

Adapun langkah-langkah yang bisa kita lakukan dalam menanggulangi permasalahan ini adalah dengan membuat kebun pada pekarangan rumah, membiarkan sebagian halaman rumah tidak di beton tanpa mengurangi kebersihan rumah, atau membuat taman kota di wilayah yang padat penduduknya. Pemanfaatan air hujan, dan mengirimkannya kembali ke tanah-tanah yang gersang harus mulai dipikirkan untuk menjaga persediaan air bawah tanah. 

Dari dulu hingga sekarang sedimentasi/pendangkalan danau, permasalahan banjir di musim hujan, dan minimnya air bersih memang selalu dihadapi di kota-kota besar berpenduduk padat dimanapaun berada karena publik kurang memperhatikan permasalahan ini. Bali harus bisa menjadi contoh dunia dengan membangun rumah tradisional stil Bali atau infrastruktur lainnya yang tetap memperhitungkan aspek-aspek kelestarian lingkungan dan tetap  menjaga bangunan budaya bali.

5.  Abrasi pantai, kerusakan terumbu karang, kerusakan vegetasi hutan mangrove, dan pencemaran air laut
Orang-orang di Bali yang mengambil keputusan dalam pembangunan proyek di Bali harus lebih pintar memberikan ijin ke Investor dalam tujuan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Bali. Pembangunan mal centro di Kuta, tempat hiburan dan bangunan-bangunan tinggi di pesisir pantai, dan beberapa proyek yang sedang berlangsung seperti rencana pembangunan jalan tol Nusa-Dua Bandara Ngurah Rai merupakan salah satu contoh yang harus menjadi perhatian serius masyarakat Bali.

Terlalu banyak pembangunan-pembangunan di wilayah Bali Selatan yang merusak Pantai dan Hutan Mangrove. Jangan lupa bahwa sebagian besar tempat wisata di Bali Selatan adalah menjual keindahan pantai. 

6.   Kurangnya lapangan pekerjaan dan perhatian untuk para lulusan sarjana di Bali
Jumlah penggangguran dari kalangan lulusan perguruan tinggi (S1) di Denpasar mencapai 45 persen dari total angka usia produktif yang tidak bekerja di Pulau Dewata. Pemerintah, pengusaha dan perguruan tinggi harus bersama-sama berusaha untuk mencari solusi dan memberikan perhatian yang lebih serius terhadap permasalahan lapangan pekerjaan ini. Gaji rata-rata apabila kita bekerja di Bali adalah 1, 7 Juta. Bandingkan dengan jika bekerja di Jakarta yang gaji rata-rata nya sampai 5-7 Juta. 

Bali adalah tempat para wisatawan menghabiskan duitnya untuk hiburan, menikmati alam dan upacara adat tradisional. Disini berarti banyak duit datang ke Pulau ini setiap saat. Permasalahan utama disini hanya orang-orang pribumi kurang bisa bersaing dengan pebisnis-pebisnis dari luar Bali dan juga para pebisnis tersebut kurang peka memberikan kesempatan balas budi untuk orang lokal karena telah menjaga budaya lokalnya setiap saat. Akhir-akhir ini, banyak generasi muda Bali yang lebih memilih bekerja di kapal pesiar dengan gaji 8 juta perbulan, yang notabene kita dijadikan budak oleh para pebisnis kapal pesiar. 

Pemerintah kurang adil dalam memberikan kesempatan lapangan pekerjaan untuk para lulusan perguruan tinggi untuk mengasah ilmunya, padahal Bali membutuhkan lulusan-lulusan ini untuk memperbaiki segala kesembrawutan yang terjadi saat ini. Pembangunan di Indonesia masa kini seperti tanpa engineer dan tenaga ahli, pembangunan hanya bangun-bongkar-pasang seperti pekerjaan para amatiran tanpa pendidikan dan menghabiskan dana yang banyak sekali. 

Lulusan-lulusan mahasiswa terbaik tidak dimanfaatkan secara maksimal dan pekerjaan cenderung dikuasai oleh orang-orang tertentu yang bukan pada bidangnya.

7. Harga pelayanan jasa hiburan yang tidak adil dan mencolok mata untuk wisatawan lokal dan mancanegara
Saat saya berkunjung ke suatu tempat wisata di Bali, salah satu yang membuat tidak nyaman dan susah untuk menjelaskan ke teman-teman dari negara lain adalah harga tiket masuk yang berbeda untuk orang lokal dan wisatawan asing. Pelaku wisata di Bali terlalu terang-terangan membuat kondisi yang tidak adil untuk wisatawan asing.

Ada ide menarik yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan… yaitu dengan memberikan kartu khusus untuk mendapatkan korting bagi wisatawan lokal yang juga ingin menikmati indahnya tempat wisata di Bali. Dengan kartu ini, wisatawan lokal seolah-olah mendapat potongan harga sehingga , sehingga memudahkan kita untuk menjelaskan kenapa adanya perbedaan tarif masuk antara orang lokal dan wisatawan asing di Bali. Nahh disini pemerintah daerah bisa mengkordinir pembuatan dan penggunaan kartu wisata ini untuk menambah pendapatan daerah. Ide yang menarik bukan?


8. Berbagai macam permasalahan pada sektor pertanian di Bali
Permasalahan ekonomi para petani menjadi akar dari permasalahan pada sektor pertanian di Bali yang menyebabkan semakin banyaknya alih fungsi lahan pertanian di Bali. Padahal masalah pangan di Indonesia yang berpenduduk ke-4 terbanyak di dunia harus tetap menjadi perhatian

Pemerintah daerah perlu mengembangkan insentif bagi upaya mempertahankan lahan pertanian. Jangan sampai hanya karena masalah ekonomi, semakin jarang orang yang berminat meneruskan profesi petani. Jaman mulai serba instan, orang-orang mulai ingin menikmati masa kini saja sehingga petani harus diprioritaskan diberi kemudahan-kemudahan. Koperasi tani harus diperbanyak agar petani dan peternak dimanapun bisa dengan mudah menyalurkan hasil pertaniannya dengan harga yang sesuai dengan jerih payah mereka. Kredit murah dari pemerintah untuk para petani tanpa mengambil untung untuk mengembangkan sistem pertanian mereka mungkin saat ini masih menjadi solusi yang terbaik.

Fasilitas seperti pengairan, persediaan bibit, fasilitas umum, hiburan dan sekolah-sekolah untuk anak-anak para petani juga perlu menjadi perhatian pemerintah daerah agar mereka tidak merasa ada kesenjangan dengan orang-orang di kota.

9. Permasalahan sumber energi listrik
Sampai saat ini Bali masih bergantung dengan jaringan listrik dari luar. Karenanya apabila terjadi gangguan dengan koneksi jaringan listrik Jawa-Bali, dapat dipastikan Bali akan mengalami pemadaman listrik untuk jangka waktu yang lama, dan tentu saja ini akan mengganggu industri pariwisata yang akan berpengaruh ke segala bidang.

Solusi dari permasalahan ini adalah dengan memanfaatkan energi terbarukan seperti PLTS untuk sistem perumahan dan perkantoran. Pebisnis, engineer elektro, PLN dan perusahaan pemberi pinjaman bisa saling berusaha untuk memberi kemudahan bagi mereka yang ingin memanfaatkan pembangkit listrik jenis ini untuk rumah-rumah tempat tinggal mereka.

Engineer dan perusahaan yang bergerak di bidang pembangkit listrik jenis ini bersama-sama mendesain sistem kelistrikan untuk perumahan, kemudian PLN membantu untuk pemasangannya, sedangkan perusahaan pemberi pinjaman memberikan modal untuk pemasangannya yang nantinya dicicil dalam beberapa tahun seperti halnya konsumen membayar listrik ke PLN. Ide ini mungkin bagus diterapkan untuk perumahan-perumahan diatas 2200 VA atau pedagang-pedagang semi-permanen di tempat daerah wisata yang memerlukan listrik dalam menjalankan usahanya. PLTS juga bisa dimanfaatkan untuk lampu penerang jalan/papan iklan, trafic light, dan fasilitas umum lainnya. Jika ini berhasil Bali bisa menjadi panutan dunia karena menggunakan energi listrik yang ramah lingkungan dan bisa diikuti dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia bagian timur yang sebagian besar wilayahnya belum terlistriki.


Referensi :
1. MetroNews, Di Bali Sarjana menganggur capai 45 %
2. Cakrawala Online, Kampus terapkan peraturan penanganan masalah lingkungan
3. Majalah Hindu Raditya, Masalah sampah sisa upacara di Bali
4. RRI Denpasar, Terlalu banyak masalah di sektor pertanian di Bali
5. Antara News, Wisman keluhkan masalah sampah di Bali

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

TEMPLATE ERROR: Extra characters at end of string: buf=[data:post.url] remainder=[ "&layout=box_count&show_faces=false&width=110&action=like&font=arial&colorscheme=light"]